Sejarah Sastra Rusia

Sejarah karya sastra Rusia diawali dengan beberapa karya yang ditulis dalam bahasa Rusia kuno. Karya-karya tersebut misalnya “The Tale of Igor's Campaign” dan “Praying of Daniel the Immured” dan kesemuanya anonim. Karya lain yang mengawali lahirnya kesusasteraan Rusia antara lain Zadonschina, Physiologist, Synopsis and A Journey Beyond the Three Seas...

Sejarah Sastra Di Amerika

Sejarah penulisan karya sastra di Amerika berkaitan erat dengan para imigran yang berasal dari Inggris. Sedikit-banyak kebudayaan dan tren sastra di Britania mempengaruhi apa yang ada di Amerika

Selamat Datang..

Ini adalah halaman karya sastra saya. Blog ini masih dalam pembangunan. Bagi teman-teman yang punya minat sama yaitu sastra siap-siap tukeran link dan sering-sering main ke sini ya..

Selamat Datang..

Ini adalah halaman karya sastra saya. Blog ini masih dalam pembangunan. Bagi teman-teman yang punya minat sama yaitu sastra siap-siap tukeran link dan sering-sering main ke sini ya..

Selamat Datang..

Ini adalah halaman karya sastra saya. Blog ini masih dalam pembangunan. Bagi teman-teman yang punya minat sama yaitu sastra siap-siap tukeran link dan sering-sering main ke sini ya..

Tampilkan postingan dengan label adirahman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adirahman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Agustus 2012

Inflasi Hiburan


Saya kira sudah banyak yang menulis tentang inflasi ibadah atau inflasi jilbab/kerudung – terutama di bulan Ramadhan ini. Inflasi ibadah artinya begitu banyak orang beribadah. Saking banyaknya orang beribadah, kualitas ibadah itu tidak diperhatikan dan nyaris menjadi sia-sia. Begitu juga dengan jilbab atau pun kerudung.
Ini pandangan manusia lho. Manusia bisa skeptis dan sinis. Namun Tuhan tidak dan saya kira memang begitu. Tetapi, tulisan ini tidak dalam rangka menghentikan orang-orang yang beribadah dan memakai jilbab/kerudung. Bagaimanapun kualitas aktivitas mereka saat ini.

Oleh karena itu, saya ingin menyoroti yang masih jarang dibahas. Yaitu hiburan di bulan Ramadhan. Kondisi yang menarik adalah, justru tayangan hiburan di bulan Ramadhan malah tambah banyak. Tayangan religius pun nambah, tetapi saya kira persentasenya kalah. Saya belum punya data statistik pasti namun dari yang kita lihat seperti itulah kelihatannya. Sebelum, berbuka dan sahur ada tayangan sinetron, lawak, musik, variety show (lawak, talkshow atau quiz) mengambil durasi hampir 1 jam. Ada yang lebih. Bagi saya itu semua adalah hiburan. Meski ada yang beralasan itu semua bermuatan religius. Namun, akan makin jelas kelemahannya bila ditanya berapa persentase muatan religiusnya. Tidak terlalu banyak nampaknya.

Bagi saya persentase muatan religius, bukanlah berita tentang keramaian di bulan Ramadhan, kebiasaan selebriti di bulan Ramadhan dan sejenisnya. Bulan Ramadhan adalah bulan membangun ruhiyah. Ruhiyah adalah kualitas ‘sinyal’ manusia terhadap Allah. Bila telepon seluler menguat sinyalnya karena dekat dengan BTS, ‘sinyal’ manusia dan Allah SWT menguat ketika manusia dekat dengan Allah. Caranya dengan terus menerus taat pada perintahnya. Seolah-olah engkau Melihatnya atau paling tidak engkau merasakan bahwa Dia mengawasimu.
Selamat Berpuasa.

Sabtu, 28 Juli 2012

Opportunity Cost

Berpuasa tentu saja menyakitkan. Apa yang seharusnya bisa kita makan tidak kita makan. Apa yang seharusnya nikmat menjadi penat dan bikin maag kumat. Kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang SEHARUSNYA hak kita. Orang barat menyebut kehilangan semacam ini sebagai "Opportunity Cost".

Opportunity Cost inilah yang menjadi dasar perilaku ekonomi negara-negara barat. Dan Indonesia juga tentunya. Ambil contoh bunga (interest). Pengenaan bunga adalah karena modal yang seharusnya oleh si pemilik di bikin usaha malah dipinjamkan ke orang lain.Maka si pemilik modal menuntut opportunity cost karena ia tak bisa menggunakan uangnya untuk usaha.

Begitulah hidup. Sekian banyak orang telah menemukan alasan-alasan yang masuk akal dan cerdas untuk mempertahankan hidupnya. Hidupnya SENDIRI. Anda tertarik ?

Namun, konsep opportunity cost sebenarnya tidak kuat-kuat amat. Marilah kita rasakan hidup kita sendiri. Hidup kita selalu penuh pilihan. Para pemuda lajang mempunyai banyak pilihan untuk mengambil seorang gadis (atau janda) sebagai istri. Namun, saya belum menemukan ada yang komplain dan menyesal seumur hidup karena melewatkan kebahagian dengan perempuan lain yang tidak ia pilih. Maka,opportunity cost tidak berlaku pada perkawinan dan pernikahan. Selalu saja ada pilihan dalam hidup. Begitu kita memilih satu hal, maka secara otomatis raiblah pilihan yang lain.Goodbye....

Rabu, 11 Januari 2012

Sastra Sebagai Pola Berpikir

Membaca karya sastra berbeda dengan membaca karya-karya non-fiksi. Perbedaan terletak pada konsep penulisan dan letak 'inti' tulisan. Dengan memahami perbedaan-perbedaan tersebut setiap pembaca akan dapat memposisikan bacaan mereka pada tempat yang seharusnya. Dengan pemahaman tersebut, karya fiksi (cerpen,novel, puisi, naskah drama dll) ditempatkan sebagai bacaan yang tidak terlalu membutuhkan penilaian dan judgement (pembenaran/penyalahan) secara langsung. Sedangkan, karya-karya non-fiksi dapat dilakukan penilaian dan judgement secara langsung dan menggunakan logika-logika rasional umum.

Karya fiksi menekan pada naik-turunnya emosi dan tensi. Karya fiksi yang memiliki fluktuasi pengisahan yang nai-turun secara konstan memiliki nilai yang semakin baik. Nilai karya sastra juga terletak pada visualisasi emosi, setting atau suasana yang efektif. Efektifitasnya tidak harus rasional dan nyata seperti karya non-fiksi. Untuk memperkaya suasana dan bentuk emosi yang ingin dibangun penulis, kadang kata-kata yang tidak langsung, sarkatis, sinisme, ironi dan sindirian dipakai.

SELAMAT MENIKMATI SASTRA...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More