Sejarah Sastra Rusia

Sejarah karya sastra Rusia diawali dengan beberapa karya yang ditulis dalam bahasa Rusia kuno. Karya-karya tersebut misalnya “The Tale of Igor's Campaign” dan “Praying of Daniel the Immured” dan kesemuanya anonim. Karya lain yang mengawali lahirnya kesusasteraan Rusia antara lain Zadonschina, Physiologist, Synopsis and A Journey Beyond the Three Seas...

Sejarah Sastra Di Amerika

Sejarah penulisan karya sastra di Amerika berkaitan erat dengan para imigran yang berasal dari Inggris. Sedikit-banyak kebudayaan dan tren sastra di Britania mempengaruhi apa yang ada di Amerika

Selamat Datang..

Ini adalah halaman karya sastra saya. Blog ini masih dalam pembangunan. Bagi teman-teman yang punya minat sama yaitu sastra siap-siap tukeran link dan sering-sering main ke sini ya..

Selamat Datang..

Ini adalah halaman karya sastra saya. Blog ini masih dalam pembangunan. Bagi teman-teman yang punya minat sama yaitu sastra siap-siap tukeran link dan sering-sering main ke sini ya..

Selamat Datang..

Ini adalah halaman karya sastra saya. Blog ini masih dalam pembangunan. Bagi teman-teman yang punya minat sama yaitu sastra siap-siap tukeran link dan sering-sering main ke sini ya..

Jumat, 06 Januari 2012

PELAGEYA

Oleh: Mikhail Zoschenko

PELAGEYA adalah seorang wanita buta huruf. Ia bahkan tidak bisa menuliskan namanya sendiri.

Meskipun begitu, suami Pelageya adalah seorang pejabat Sovyet yang bertanggung jawab. Sekalipun dahulu ia cuma seorang petani biasa, lima tahun hidup di kota telah eng-ajarkan banyak kepadanya. Tidak hanya bagaimana cara menulis namanya, tetapi juga berbagai hal yang lainnya. Dan ia merasa sangat malu mempunyai seorang istri yang buta huruf.

“Engkau, Pelageyushka, mesti belajar, paling tidak menulis namamu sendiri.” Begitu yang biasa ia ucapkan pada Pelageya. “Nama belakangku, kan, cukup mudah. Cuma dua suku kata – Kuch-kin, dan engkau belum juga bisa menuliskannya. Sungguh keterlaluan.”

Biasanya Pelageya mengelak. “Tak ada gunanya lagi buatku untuk belajar sekarang, Ivan Nikolaevich,” pasti demikian jawabnya. “Aku sudah mulai tua. Jari-jari tanganku sudah mulai kaku. Buat apa aku belajar menulis huruf-huruf itu sekarang? Biar saja yang muda-muda yang belajar. Aku ingin menjadi tua sebagaimana adanya.”

Suami Pelageya adalah seorang yang sangat sibuk dan tidak bisa membuang waktu terlalu banyak buat istrinya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan berkata, “Oh, Pelageya, Pelageya!” Namun, tak diucapkannya kata-kata itu.

Pada suatu hari Ivan Nikolaevich membawa pulang sebuah buku kecil yang istimewa.

“Ini, Polya,” katanya, “adalah buku untuk belajar sen­diri keluaran terbaru, yang dibuat atas dasar metode-metode yang paling mutakhir. Aku sendiri yang akan menjadi gurumu.”

Pelageya tertawa saja, menerima buku itu, membuka-bukanya, dan menyimpannya di balik rak dapur, seperti hendak mengatakan, “Biarkan saja di situ. Mungkin anak-cucu kita akan memerlukannya kelak.”

Pada suatu hari Pelageya sedang duduk bekerja. Ia ha­rus menambal mantel milik Ivan Nikolaevich. Bagian lengannya terkoyak.

Pelageya duduk di dekat meja. Ia mengambil jarum jahitnya. Diletakkannya tangannya di bawah mantel dan didengarnya sesuatu yang berbunyi berkerisik. Mungkin ada uangnya, pikir Pelageya. Ia mencari-cari dan menemukan sepucuk surat. Sebuah surat yang apik, dengan amplop yang bersih, tulisan tangan yang baik, dan kertas yang berbau parfum atau eau de cologne.

Jantung Pelageya berdetak keras.

Mungkinkah Ivan Nikolaevich serong? pikirnya. Mungkinkah ia saling bertukar surat cinta dengan nyonya-nyonya berpendidikan tinggi dan menertawakan istrinya yang miskin, bodoh, dan buta huruf?

Pelageya menatap amplop itu, mengeluarkan isinya dan membuka lipatannya, tetapi karena ia buta huruf tak dapat diartikannya sepatah kata pun.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Pelageya menyesal karena tak dapat membaca.

Meskipun itu mungkin surat orang lain, pikirnya, aku tetap harus mengetahui apa isinya. Seluruh hidupku mungkin bisa berubah karenanya, dan lebih baik aku kembali saja ke desa menjadi petani lagi.

Pelageya mulai menangis dan merasa bahwa Ivan Nikolaevich kelihatan berubah akhir-akhir ini – ia tampak lebih memberi perhatian pada kumisnya dan lebih sering mencuci tangannya. Pelageya duduk memandangi surat itu dan terisak-isak seperti seekor babi yang kena perangkap. Namun, tak dapat dibacanya surat itu, dan kalau ia tunjukkan kepada orang lain, pasti akan memalukan.

Pelageya menyembunyikan surat itu di balik rak, menyelesaikan pekerjaannya, dan menunggu Ivan Niko­laevich pulang.

Ketika ia datang Pelageya berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Malahan, dengan nada suara kalem dan lembut ia berbicara dengan suaminya, bahkan memberi isyarat bahwa ia tidak keberatan untuk belajar sedikit dan bahwa ia telah jenuh menjadi seorang petani yang buta huruf dan bodoh.

Ivan Nikolaevich sangat gembira mendengarnya. “Itu baru namanya baik,” katanya. “Dan aku sendiri yang akan mengajarimu.”

“Boleh, silahkan,” kata Pelageya, dan dengan tajam ditatapnya kumis kecil Ivan Nikolaevich yang rapi dan melintang.

Selama dua bulan penuh Pelageya mempelajari bukunya setiap hari. Dengan telaten diuraikannya kata-kata ke dalam suku-suku kata, dipelajarinya cara menulis huruf-huruf, dan dihafalkannya kalimat-kalimat. Dan setiap sore dikeluarkannya surat berharga itu dari rak serta dicobanya menebak-nebak isinya yang misterius.

Tapi rupanya itu bukan pekerjaan yang mudah.

Baru pada bulan ketiga Pelageya menguasai ketrampilan tersebut.

Pada suatu pagi ketika Ivan Nikolaevich pergi bekerja, Pelageya mengambil surat dari rak dan mulai membacanya.

Sulit memang baginya membaca tulisan tangan yang kecil-kecil, tetapi bau parfum yang samar-samar dari kertas surat tersebut membakar semangatnya. Surat itu ditujukan pada Ivan Nikolaevich.

Pelageya membaca:

Kamerad Kuchkirt Yth,

Kukirimkan buku yang kujanjihan kepadamu. Kurasa istrimu pasti mampu menguasai buku tebal ini dalam waktu dua atau tiga bulan. Berjanjilah padaku, kamerad, bahwa engkau akan memaksanya untuk belajar. Terangkan kepadanya; buatlah supaya ia merasa betapa tidak enaknya menjadi seorang wanita petani yang buta huruf.

Dalam rangka merayakan ulang tahun Revolusi, kita sedang bergiat menghapus buta huruf di seluruh Republik dengan segala cara, namun kadang-kadang, karena satu dan lain hal, kita melupakan orang yang dekat dengan kita sendiri.

Jangan lupa, Ivan Nikolaevich.

Salam,
Maria Blokhina

Pelageya membaca surat itu sampai dua kali. Kemudian, sambil merapatkan bibirnya dengan sedih dan diam-diam merasa terhina, ia pun meneteskan air mata.

***

Pengakuan

Oleh : Anton Chekov

Cuaca cerah hari itu. Aku seperti seorang sopir taksi yang mendapat sekeping uang emas yang diberikan tanpa sengaja oleh penumpangnya. Aku ingin tertawa, menangis dan berdoa. Aku berada di sorga ke tujuh : aku baru diangkat menjadi bendahara kantor ! Tapi bukan karena itu aku jadi gembira luar biasa, bukan pula karena tanganku kini bisa menggenggam sesuatu – aku bukan pencuri dan aku siap menghancurkan siapapun yang mengatakan bahwa aku suatu ketika aku pasti menjadi pencuri. Aku bersuka cita atas promosi dan kenaikan gaji yang tak banyak, itu saja. Tidak lebih. Dan aku juga merasa gembira untuk alasan yang lain : begitu juga bendahara, tiba-tiba aku merasa seperti memakai kaca mata berwarna merah mawar.

Dalam seketika semua orang tampak begitu berubah. Astaga ! Semua orang tampak berkembang. Yang buruk jadi tampan. Yang jahat kini baik: yang sombong jadi begitu rendah hati, yang ketus kini ramah. Rasanya mataku ini baru saja dibukakan, dan tampak olehku bahwa sebenarnya semua orang itu indah, dan baru sekarang aku menyadari akan adanya sifat tak terduga yang tersimpan dalam setiap pribadi. “Aneh,” kataku pada diri sendiri, “mungkin sesuatu telah terjadi pada mereka, atau mungkin aku yang telah begitu tolol hingga tidak melihat sifat-sifat itu sebelumnya. Betapa ramahnya setiap orang!”

Pada hari kenaikan pangkat itu, bahkan ZN Kazusof berubah. Ia seorang direktur, seorang yang angkuh, pongah, seorang yang merasa dirinya terlalu tinggi untuk memperhatikan hal-hal kecil. Dia menghampiriku dan – apa yang telah terjadi padanya? – tersenyum ramah dan menepuk-nepuk punggungku. “Kau ini masih terlalu muda untuk bersombong diri, anakku. Itu sikap yang tak bisa dimaafkan!” katanya. “Mengapa kau tak pernah mampir ke tampat kami? Wah, kau ini memalukan sekali, anak-anak muda yang datang ke rumah kami dan disana segalanya selalu menyenangkan. Putri-putriku selalu menanyakan engkau : ‘Mengapa Gregory Kuzmich tidak di undang kemari, Papa? Dia begitu baik! Tapi mungkinkah aku mengajaknya? Hm, akan kucoba, kataku pada mereka. Akan kutanyakan padanya. Nah, jangan mencari perkara yang bisa memecat dirimu sendiri, anakku. Datanglah.” Luar biasa! Apa yang telah terjadi padanya ? Apa dia telah kehilangan akal sehatnya ?

Biasanya dia seperti raksasa garang, dan sekarang, lihatlah ! Ketika aku pulang pada hari itu, aku terperanjat: Mama tidak menyediakan dua macam lauk seperti biasanya. Malam itu ada empat ! Untuk minum the di sore hari ada roti putihdan selai. Hari berikutnya empat macam lauk dan selai lagi; ketika tamu datang berkunjung, kami minum coklat. Hari ketiga begitu lagi. “Mama,” kataku, “apa yang telah terjadi dengan engkau? Untuk apa semua kemewahan ini, Mama sayang? Mama kan tahu, gajiku tidak jadi dua kali lipat. Kenaikannya tidak seberapa.” Mama memandangku dengan wajah keheranan, “Hm ! Memangnya apa yang kau harapkan bakal terjadi atas uang itu – ditabung?”

Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang merasuki mereka. Papa memesan mantel bulu, membeli topi baru, merawat diri dengan air mineral, dan mulai makan anggur – pada musim salju ! Dalam waktu beberapa hari, aku menerima surat dari saudara laki-lakiku. Saudaraku yang satu ini tidak pernah bisa akur denganku. Kami berpisah karena perbedaan pandangan hidup: ia menganggap aku ini parasit yang egois, tidak mau berkorban dan karena alasan ini menganggap hina diriku. Dalam suratnya ia menulis : Adikku sayang, aku mencintaimu dan kau tak dapat bayangkan seperti apa hebatnya penderitaan yang menyiksaku akibat pertengkaran kita dulu. Mari kita perbaiki segalanya. Mari saling ulurkan tangan dan biarkan damai berjaya ! Aku memohon dengan sangat kepadamu. Sambil menanti surat darimu, kukirim peluk cium untukmu dari kakakmu yang tercinta dan tersayang. Yevlampy. Duhai kakakku sayang. Aku menjawab suratnya dan menyatakan bahwa aku sangat mencintainya dan sangat bahagia.

Dalam waktu seminggu aku telah menerima telegram : Terimakasih. Bahagia. Kirimkan 100 rubel. Penting. Salam untukmu. Yevlampy. Aku kirimkan 100 rubel. Bahkan diapun berubah. Dia tidak mencintaiku. Suatu ketika, waktu aku memberanikan diri memberi isyarat tentang betapa kacaunya hatiku ini, ia menuduhku lancang dan tertawa keras-keras dihadapanku. Ketika bertemu denganku seminggu setelah promosiku, ia menampakkan lesung pipitnya, tersenyum dan tampak canggung. “Apa yang terjadi denganmu?” tanyanya sambil menatapku. “Kau jadi sangat tampan. Kapan kau lakukan ini semua?” Lalu, “Ayo kita dansa. . .” Kekasih ! Dalam sebulan ia telah memberiku seorang mertua.

Aku telah jadi begitu tampan ! Ketika uang dibutuhkan untuk pesta pernikahan, aku mengambil 300 rubel dari peti kas. Mengapa tidak, kalau kau pasti akan mengembalikannya begitu habis menerima gaji? Pada saat yang sama aku mengambil 100 rubel untuk Kaszusov. Ia minta pinjaman dan aku tak mungkin menolaknya. Ia roda utama di kantor dan bisa memecat siapa pun dengan sekali angkat bicara. Seminggu sebelum penangkapan, di usulkan agar aku membuat pesta. Perduli setan, biar mereka minum dan makan dengan rakus kalau memang itu yang mereka inginkan. Aku tak menghitung jumlah tamu malam itu. Tapi aku ingat bahwa delapan kamarku penuh dengan kerumunan manusia : tua dan muda. Semua ada di sana, juga mereka yang mampu memaksa Kazusov untuk menekuk lututnya. Putri-putri – yang tertua telah menjadi milikku – dalam pakaian yang gemerlap; bunga-bunga yang mereka kenakan di sekujur tubuh mereka membuat aku harus membayar 1000 rubel.

Pesta itu meriah sekali dengan kerlip lampu kristal, musik yang memekakkan telinga dan champagne yang melimpah ruah. Ada toast-toast singkat : seorang wartawan mempersembahkan ode untukku dengan sebuah balada. “Di Rusia ini kita tidak tahu bagaimana kita harus menghargai orang seperti Gregory Kuzmich!” teriak Kazusov sehabis santap malam, “Memalukkan! Rusia patut dikasihani!” Mereka berteriak-teriak, menyanjung dan menciumku, berbisik-bisik di balik punggungku, dengan jari, mereka mendorong hidung mereka ke arahku, mendesah, “Ia mencuri uang itu. Bajingan !” mereka berbisik dan menyeringai dengki. Tetapi desahan dan seringai itu tidak menghalangi mereka untuk makan, minum dan bersenang-senang. Tidak ada serigala atau orang sakit gula yang makan seperti mereka. Istriku, bermandikan emas dan permata, datang menghampiriku dan berbisik, “Mereka bilang kau mencuri kas. Kalau itu benar, aku ingatkan kau, aku tidak mau lagi hidup dengan seorang pencuri. Aku akan pergi !” dan ia merapikan gaunnya yang 5.000 rubel itu. Biar setan menggenggam mereka ! Malam itu Kazusov mendapat 5.000 rubel dari aku. Yevlampy mengambil jumlah yang sama. “Kalau ada yang mereka bisikan tentang kau itu benar,” kata saudaraku yang beradab itu, sambil mengantongi uang tersebut, “Awas ! Aku tidak mau jadi kakak seorang pencuri!” Setelah pesta dansa selesai kubawa mereka ke luar kota dengan troika. Kami selesai pukul enam pagi. Lelah oleh anggur dan perempuan-perempuan: mereka menumbangkan tubuh di kereta dan, ketika siap untuk pulang, mereka meneriakan ucapan perpisahan, “Besok ada inspeksi! Merci!”

Bapak dan Ibu yang budiman, aku tertangkap, atau untuk lebih jelasnya: kemarin aku dihormati dan dihargai oleh segala pihak; hari ini aku seorang bajingan, dan pencuri . . . Menangislah keras-keras sekarang, kecamlah aku, sebarkan berita, adili dan tanyakan semuanya, singkirkan aku, tulislah editorial dan lempari aku batu, hanya tolonglah – Jangan semua, jangan semua orang !

–pent : Reda L Gandiamo-

Semut dan Belalang

Oleh : William Sommerset Maugham

Masa kanak-kanakku diisi dengan cerita-cerita fabel La Fortane yang ajaran moralnya dijelaskan dengan hati-hati kepadaku. Salah satu di antaranya adalah kisah semut dan belalang, yang ditulis untuk dibaca anak-anak di rumah sebagai pelajaran berharga. Di dalam dunia industri, cerita itu tidak begitu dihargai dan dianggap memusingkan. Di dalam fabel yang bagus ini (aku mohon maaf mengatakan sesuatu yang kukira semua orang sudah tahu, tetapi belum pasti), semut melewatkan musim panas yang keras dengan mengisi gudang makanan untuk musin dingin, sementara belalang bertengger di ilalang bernyanyi pada matahari. Musim dingin tiba dan semut merasa nyaman, tetapi belalang kelaparan. Ia pergi menemui semut dan minta sedikit makanan.
Kemudian semut memberi jawaban klasik :
“Apa yang kau lakukan di musim panas?”
“Menyambut kehadiranmu, aku bernyanyi, aku bernyanyi, aku bernyanyi sepanjang hari, sepanjang malam.”
“Kau bernyanyi. Mengapa sekarang tidak pergi dan menari?”

Aku tidak menyalahkan cerita itu menggoyahkan batinku, tetapi lebih sebagai ketidak-konsekuenan masa kanak-kanak dalam hal ajaran moral yang terus saja bergolak di dalam diriku. Simpatiku ada pada belalang dan kadang-kadang aku tidak pernah melihat seekor semut tanpa menginjaknya. Dalam ringkasan cerita ini (dan sejak aku menyadari semuanya manusiawi) aku mencoba memperhatikan ketidaksetujuaanku pada keadaan dan nilai masyarakat umum.

Aku tidak bisa memikirkan fabel ini bila kemarin kulihat George Ramsay makan siang seorang diri di sebuah restoran. Aku tidak pernah melihat orang memakai baju gelap sebagai bentuk ekspresi. Ia mengamati ruangan itu, seakan beban seluruh dunia ada di pundaknya. Aku kasihan padanya. Kukira adik lelakinya yang malang membuat masalah lagi. Aku menghampirinya dan menjulurkan tanganku.

“Apa kabar,” tanyaku.
“Aku sedang sedih,” jawabnya.
“Tom lagi?”
Ia menarik nafas.
“Ya, Tom lagi.”
“Kenapa tidak kau biarkan saja? Kau berbuat segalanya demi dia. Kau harus menyadarinya, bahwa ia bisa diharapkan.”

Aku kira setiap keluarga punya kambing hitam. Tom menyusahkan selama dua puluh tahun. Ia memulai hidupnya dengan baik. Ia bekerja, menikah dan punya dua anak. Keluarga Ramsay adalah keluarga terpandang dan mungkin beralasan bila kemudian Tom Ramsay akan punya karir tinggi dan terhormat.
Tetapi suatu hari, tanpa ada tanda-tanda, ia mengatakan bahwa ia tidak suka bekerja dan tidak pantas untuk menikah. Ia ingin menikmati hidupnya sendiri. Ia tidak mau mendengar pendapat orang lain. Ia tinggalkan pekerjaan dan kantornya. Ia punya sedikit uang dan menghabiskan waktu selama dua tahun dengan berfoya-foya di berbagai kota di Eropa.

Menurut kabar angin apa yang diperbuatnya diamati oleh keluarganya terus menerus dan mereka sangat terguncang. Hidupnya tentu saja bersenang-senang. Mereka menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi bila uangnya habis. Mereka segera tahu, bahwa ia meminjam uang. Ia punya pemasukan berkala dari temannya dan ia pandai bergaul. Tetapi ia selalu bilang, bahwa uang yang dihabiskan adalah uang adalah uang yang kalian habiskan untuk kemewahan. Untuk ini ia bergantung kepada kakakknya George. Ia tidak merayunya. George orangnya serius dan tidak mempan bujuk rayu. George sangat dihormati. Sekali dua kali ia pernah terjebak janji Tom untuk berubah dan memberinya sejumlah uang yang cukup supaya Tom bisa memulai hidup baru. Oleh Tom uang itu dibelikan sebuah mobil dan beberapa permata mahal. Tetapi kemudian keadaan memaksa George untuk menyadarinya, bahwa adik lelakinya tidak akan pernah puas dan akhirnya ia bersikap masa bodoh padanya. Tom, tanpa sesal, mulai memerasnya.

Sebagai pengacara terpandang, tidak baik punya adik yang mengaduk cocktail di restoran favoritnya atau melihatnya menunggu di belakang kemudi taksi di luar klub. Tom bilang menjadi pelayan bar atau pengemudi taksi adalah pekerjaan yang pantas, tetapi jika George bisa memberinya beberapa ratus pound, ia tidak keberatan demi kehormatan keluarga berhenti dari pekerjaan itu. George memberinya.

Tom pernah hampir masuk penjara. George sangat marah. Tom terjerumus ke dalam noda. Tom sungguh keterlaluan. Ia menjadi liar, tidak punya pikiran, dan egois. Padahal sebelumnya ia tidak pernah berbohong, yang melanggar hukum maksud George. Jika dia diadili pasti dihukum.

Tetapi George tidak bisa membiarkan adik lelaki satu-satunya masuk penjara. Orang yang ditipu Tom adalah Cronshaw, yang ingin membalas dendam. Ia berniat membawa masalah itu ke pengadilan. Ia bilang, Tom adalah bajingan dan harus dihukum. George harus mendamaikan masalah ini dan lima ratus pound dikeluarkan untuk masalah ini. Saya tidak pernah melihat dia sedemikian marah ketika mendengar Tom dan Cronshaw pergi bersama-sama ke Monte Carlo setelah mereka mencairkan cek yang diberikannya. Mereka bersenang-senang di sana selama sebulan.

Selama dua puluh tahun, Tom berjudi, main perempuan, berpesta- dansa, makan di restoran paling mahal dan berpakaian necis. Ia selalu kelihatan seperti punya segalanya. Meskipun umurnya empat puluh enam tahun, orang akan mengira umurnya tidak lebih dari tiga puluh lima. Ia seorang teman yang bikin pusing, dan meskipun orang tahu ia tidak berharga, orang tidak bisa menikmati kehidupannya. Ia punya semangat hidup yang tinggi, sangat ceria dan tampan. Aku tidak pernah cemburu pada pemberian yang ia terima dariku secara berkala untuk keperluan hidupnya. Aku tidak pernah meminjamkannya lima puluh pound tanpa merasa bahwa ia berhutang padaku. Tom Ramsay tahu semua orang dan semua orang tahu Tom Ramsay. Orang bisa saja tidak suka padanya, tetapi orang juga tidak bisa tidak suka padanya.

George yang malang. Usianya hanya setahun lebih tua dari adiknya yang bandel, tetapi kelihatannya seperti berumur enampuluhan. Ia tidak pernah mengambil cuti empat belas hari dalam setahun selama dua puluh lima tahun. Ia ada di kantor setiap pagi pukul setengah sepuluh dan tidak pulang sebelum pukul enam. Ia jujur, rajin dan dihormati. Ia punya istri yang baik, tidak pernah dikhianatinya walaupun cuma dalam angan-angan sekalipun dan empat anak perempuan yang amat disayanginya. Ia menabung sepertiga pengahasilannya dan berencana akan pensiun pada umur lima puluh lima tahun, lalu pindah di sebuah rumah kecil di desa dimana ia bisa menggarap kebun dan bermain golf. Ia senang bahwa ia bertambah tua, karena Tom juga bertambah tua. 

Ia menggosokkan tangannya dan berkata;
“Ketika Tom masih muda dan tampan, semuanya sangat menyenangkan. Tetapi umurnya berbeda satu tahun saja denganku. Empat tahun mendatang usianya jadi lima puluh tahun. Hidupnya akan bertambah berat. Aku akan punya tiga puluh ribu pound saat usiaku lima puluh. Selama dua puluh lima tahun aku selalu bilang, bahwa hidup Tom akan berakhir miskin. Kita akan lihat bagaimana ia jadinya nanti. Kita lihat mana yang lebih menguntungkan, bekerja atau bermalas-malasan.”

George yang malang ! Aku kasihan padanya. Aku jadi ingin tahu, perbuatan hina apa yang telah diperbuat Tom saat aku duduk di sebelah George. Ia terlihat sangat marah “Kau tahu apa yang terjadi sekarang?” tanyanya padaku.

Aku yakin sesuatu hal yang buruk. Aku mengira, bahwa Tom pasti ditangkap polisi. George bisa juga bicara keras.
“Kau tidak bisa memungkiri, bahwa selama hidupku aku bekerja keras, berbuat baik dan terhormat, dan berjuang demi masa depan. Selama hidup berhemat dan bekerja keras, masa depanku akan menghasilkan banyak penghasilan karena pangkat tinggi. Aku selalu mengerjakan tugasku dalam cara seperti itu yang dengan senang hati ditakdirkan kepadaku.”
“Benar.”
“Dan kau tidak bisa memungkiri, bahwa Tom adalah pemalas, tidak berguna, cabul, bajingan. Jika ada keadilan pasti ia sudah di gubug reyot.”
“Benar.”
Muka George memerah.
“Beberapa minggu lalu ia menikah dengan wanita tua yang pantas menjadi ibunya. Sekarang wanita itu mati dan mewariskan semuanya pada Tom. Uang setengah juta pound, sebuah kapal layar, sebuah rumah di London dan sebuah rumah di desa.”
George Ramsay memukul meja dengan kepalan tangannya.
“Ini tidak adil, kukatakan padamu, ini tidak adil.”

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tawaku meledak ketika melihat murkanya George. Aku berputar di kursiku, hampir saja aku jatuh ke lantai. George menjadi marah padaku. Namun begitu, Tom sering mengundangku makan malam di rumahnya yang indah di Mayfair. Jika ia sesekali meminjam kepadaku, hal itu hanya sekadar kebiasaannya saja, bukan karena kekuasaannya.
(pent : Riva Julianto- Kompas, 31 Des 1995)

Si Beruang Es

Oleh: Marie Luise Kaschnitz

Ah, akhirnya datang juga, gumamnya ketika ia mendengar gerendel pintu gerbang dibuka. Sebenarnya ia sudah terlelap, namun segera terjaga mendengar suara itu. Hanya saja ia menjadi terheran-heran mengapa suaminya tidak menyalakan lampu luar.

“Walther!” panggilnya, tapi, hening tak ada sahutan. Ia menjadi bergidik. Jangan-jangan orang itu bukan suami­nya melainkan pencuri yang mencoba menyelinap dan menggeledah kamar dan lemarinya.

Ia ragu apakah sebaiknya ia berpura-pura tidur saja. Namun, suaminya sewaktu-waktu bisa saja datang dan pen­curi itu tentu akan menembaknya, sehingga, walaupun ia sangat ketakutan, namun diberanikannya juga untuk menyalakan lampu kamar. Tapi, baru saja ia bergerak untuk menyalakan lampu. terdengar suara suaminya yang berdiri di tengah pintu.

“Jangan nyalakan lampu!” seru suara itu. Ia menurunkan tangannya dan bangkit duduk di atas tempat tidur. Suaminya masih tetap berdiam diri saja, tak beranjak sedikit pun dari tempatnya semula, walaupun ia menawarkan agar suaminya duduk di kursi sebelah pintu kalau memang belum ingin tidur.

“Bagaimana kabarnya hari ini, Walther?” tanya wanita itu pada suaminya.

“Kabar apa?” suaminya justru balik bertanya.

“Semuanya. Ya, tentang apa saja yang engkau kerjakan hari ini. Tentang bisnis, makanan dan perjalananmu!” jawabnya.

“Ah kita tidak perlu membicarakan tentang hal itu sekarang” kata suaminya lagi.

“Lalu .... apa yang perlu kita bicarakan sekarang?” tanyanya keheranan.

“Tentang masa lalu!” jawab suaminya singkat.

Matanya tak dapat menembus kegelapan untuk melihat suaminya. Ia menjadi jengkel sekali pada kebiasaannya menutup jendela kamar rapat-rapat dan juga menarik tirai biru tebalnya sehingga tak sedikit pun cahaya yang menerobos masuk. Ia ingin benar mengetahui apakah suaminya masih mengenakan topi dan baju luarnya yang menandakan ia masih akan bepergian lagi ataukah ia habis minum minuman keras sehingga mabuk dan tak bisa memutuskan apakah akan terus pergi atau tidak.

“Yang aku maksudkan soal kebun binatang itu!” seru suaminya.

Ia mendengar suara suaminya itu seperti bergaung dari kejauhan karena kamar mereka model kuno yang luas dan beratap tinggi sekali.

“Kebun binatang?!” serunya terheran-heran, namun kemudian ia segera tersenyum dan kembali terhenyak ke atas bantalnya. “Ya, Walther, di sanalah kita pertama kali berkenalan,” ujarnya kalem.

“Ya, kamu masih ingat, ‘kan tepatnya di depan kandang apa kita berjumpa?”, suaminya terus memburunya dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Ya. . . ya aku ingat, tapi aku tidak mengerti mengapa engkau tak segera berganti pakaian dan pergi tidur Walther? Kalau engkau ingin makan akan aku ambilkan dan kau bisa makan di tempat tidur, atau kalau kau mau makan di dekat dapur juga boleh,” katanya lembut dan segera menyingkapkan selimutnya dan bergegas hendak menyiapkan makan malam suaminya. Namun, walaupun kamar itu begitu gelap gulita, suaminya seakan-akan melihat jelas apa yang ia lakukan dan segera melarangnya.

“Tak usah bangun dan jangan nyalakan lampu. Aku tak mau makan apa-apa dan kita bisa tetap bercakap-cakap dalam gelap” tandas suaminya.

Ia menjadi terheran-heran mendengar nada aneh pada suara suaminya dan juga mengapa ia yang tentu sangat lelah itu tak mau apa-apa kecuali membicarakan masa lampau mereka.

Lima tahun sudah mereka menikah dan hari-hari sekarang selalu terasa lebih indah dan lebih penting baginya dibandingkan dengan hari-harinya yang lampau, namun karena suaminya kelihatan begitu menuntutnya untuk terus menjawab pertanyaan-pertanyaannya, ia menjadi terhenyak kembali ke atas bantal dan meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya.

“Di depan kandang beruang es” katanya lembut men­jawab pcrtanyaan suaminya tadi. “Mereka baru selesai diberi makan dan sedang turun dari bebatuan terjal yang ada di kandang untuk memangsa ikan-ikan di air. Setelah itu mereka naik lagi ke atas bebatuan, putih kotor warna bulunya dan mulai , . . “, belum selesai ia berkata-kata suaminya segera memotongnya.

“Mulai apa?!”

“Yah, seperti biasanya mereka selalu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri . . . terus tanpa henti,” jawabnya.

“Ya persis seperti kamu!” tandas suaminya.

“Seperti aku?” tanyanya keheranan dan mulai menirukan gerakan beruang es itu dalam kegelapan.

“Kau tengah menunggu seseorang!” kata suaminya ketus, “Saya terus mengamat-amati kamu waktu itu. Saya sedang berada di depan kandang burung waktu itu. Burung-burung itu mula-mula hinggap dengan tenangnya di atas dahan. tapi tiba-tiba beterbangan dan menancapkan ujung kaki-kaki mereka di atas pagar kawat,” lanjut suaminya membuka kembali lembaran masa lampau me­reka.

“Ah, kandang beruang es, pagarnya, bukan pagar kawat” ia mencoba berbicara soal lain.

“Kamu sedang menanti-nanti seseorang waktu ittu. Kepalamu bergerak terus menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi orang yang kau nanti-nantikan itu tak kunjung tiba juga!” ujar suaminya dengan nada pasti.

Mendengar perkataan suaminya yang penuh nada kepastian itu ia menjadi terhenyak kembali dan terdiam baku di bawah selimutnya. Entah mengapa ia merasa bahwa ia harus menyembunyikan hal yang sebenarnya.

“Aku tidak menunggu siapa-siapa waktu itu,” ujarnya. “Setelah saya mengamat-amatimu sekian lama, saya lalu mendekatimu dan berpura-pura asyik pula melihat beruang-beruang es. Kita kemudian bercakap-cakap dan duduk di atas bangku kayu sambil memperhatikan burung Flamingo yang lehernya merah panjang seperti ular. Udara tak lagi panas waktu itu, bahkan angin akhir musim panas bertiup sepoi-sepoi” kenang suaminya, tak memperdulikan bantahannya, seakan-akan semua yang telah berlalu itu te­ngah terjadi kembali di hadapan mereka kini.

“Ya, saat itulah aku mulai merasakan hidup yang sebenarnya,” kata wanita itu.

“Hal itu yang sulit saya percayai!” kata suaminya ketus. “Ganti pakaian dululah, Walther! Atau nyalakanlah lampu, atau paling tidak . . . duduklah Walther,” bujuknya. “Saya duduk dan sekaligus berdiri, saya berbaring dan sekaligus terbang. Yang aku inginkan sekarang adalah kenyataan yang sebenarnya!” seru suaminya.

Wanita itu menjadi menggigil kedinginan di bawah selimutnya yang hangat tebal. Ia takut kalau-kalau suami­nya yang ramah dan penggembira itu kehilangan akal sehatnya. Tapi, pada saat itu juga tiba-tiba ia menjadi ingat dengan begitu jelasnya, bahwa ia dulu memang setiap sore selalu menantikan seseorang di kebun binatang itu. Dan sekarang bukan tidak mungkin suaminya mengetahui segalanya dari orang itu sendiri.

“Tentang kenyataan yang mana. Walther?”, elaknya.

“Waktu itu saya lalu mengantarmu pulang ke rumah. Kita kemudian sering berjalan-jalan dan keluar malam bersama. Tiap kali saya tanyakan padamu apakah engkau tengah menanti seseorang dan terus menantinya serta tidak dapat melupakannya, tapi engkau tiap kali selalu menggelengkan kepala dan mengatakan tidak,” suaminya terus mengungkit masa lalu mereka.

“Ya. itu memang hal yang sebenarnya!” katanya. Alangkah inginnya ia agar fajar segera tiba sehingga dapat melihat suaminya karena matanya entah kenapa tak dapat juga beradaptasi dengan kegelapan dan ia tak kunjung juga melihat suaminya. Ia menjadi gelisah karenanya.

“Itu bukan kenyataan yang sebenarnya!'' sergah suami­nya.

Ya, ya, memang itu bukan kenyataan yang sebenarnya, gumamnya dalam hati. Walther benar. Karena waktu itu walaupun aku berjalan-jalan dan berdansa di malam hari dengannya tapi tiap kali dengan diam-diam mataku selalu berkeliling mencari orang yang kucintai namun yang tega meninggalkanku. Aku memang menyukai Wal­ther, namun aku menikah dengannya bukan dengan dasar cinta melainkan hanya karena aku tak mau terus hidup sendiri.

Ia tiba-tiba saja merasa begitu lelahnya dan ingin membeberkan semua hal yang selama ini selalu ia elakkan. Barangkali kalau ia sudah mengatakan hal yang sebenarnya, suaminya akan datang menghampirinya dari kege­lapan itu.

Ia akan mengatakan bagaimana sebenarnya hal yang telah lalu itu dan bagaimana sekarang, yakni bahwa ia kini telah mencintai suaminya dan semua laki-laki lain tak ada artinya lagi baginya. Ia yakin kalau saja ia dapat memeluk leher suaminya ia pasti akan dapat meyakinkan suaminya bahwa cintanya kini selalu tumbuh dan cintanya yang lalu sudah lama mati.

“Walther,” serunya lembut. Ia memang tidak memanggil suaminya dengan sebutan sayang atau kekasihku, tapi dengan mesranya ia mengembangkan kedua belah tangannya.

Suaminya tak kunjung menghampirinya juga. Ia tetap berdiri kaku di tempatnya dan tetap tak dapat tertihat sosok tubuhnya.

“Ketika itu saya beluum mengenal betul kota Munchen dan atas saranmulah, ketika kita baru menikah, tiap Minggu kita mengelilingi Munchen. Kita belum punya mobil saat itu, hingga kita selalu naik kendaraan umum berganti-ganti untuk rute yang berbeda-beda dan akhirnya turun di stasiun terakhir. Sesampainya di stasiun terakhir kita juga selalu berjalan-jalan sejenak. Tanpa sadar selalu kulihat bahwa engkau seperti tengah mencari-cari seseorang. Kepalamu selalu menoleh ke kanan dan kiri tanpa henti seperti seekor beruang es yang sedang mencari kebebasan atau apalah yang tak kita ketahui. Saya lalu sering memanggilmu beruang esku.” suaminya terus mengingatkannya tentang masa lalu mereka.

“Ya,” ujar wanita itu lirih. Ia teringat bahwa pada bulan-bulan pertama pernikahan mereka, suaminya selalu memanggilnya si beruang es. Ia dulu mengira julukan itu diberikan kepadanya untuk mengenangkan saat perjumpaan pertama mereka di depan kandang beruang es atau, kalau tidak, ya, karena ia mempunyai rambut pirang yang sangat panjang dan tebal, yang bergantung seperti surai binatang di atas pundaknya. Namun, ternyata julukan itu lahir dari kecurigaan dan bukan sekedar nama kesayangan.

“Ketika kita sudah punya mobil, kita selalu pergi ke alam bebas tiap pekan. Kita lalu berjalan melintasi hutan dan berjemur di atas padang rumput sampai tertidur. Kepalamu kau letakkan di dadaku. Ketika kita kemudian terjaga oleh angin ribut, temyata kita telah kehilangan arah. Baru berjam-jam kemudian kita menemukan mobil kita...masih ingat tidak kau, Walther?”

Wanita itu mencoba membangkitkan kenangan manis mereka berdua. Namun, suaminya seolah tak mendengar segala perkataannya dan berkata dengan dinginnya. “Kita pernah sekali bertemu dengannya!”

“Ah sudah, sudahlah!”. seru wanita itu yang tiba-tiba menjadi jengkel. “Ayolah makan, atau biarkanlah aku menyalakan lampu agar aku dapat menyiapkan makanan untukmu. Masih ada ayam goreng di kulkas.”

Suaminya tidak sedikit pun mengindahkan perkataan­nya. Ia menjadi berfikir keras bagaimana caranya agar suaminya dapat membuang jauh-jauh segala pemikirannya itu.

“Kau besok menghadapi hari yang berat untuk menyelesaikan lagi urusanmu hingga malam, Walther. Kalau kau sekarang tidak istirahat, akan tambah berat jadinya.”

“Kita pernah sekali bertemu dengannya,” ulang suami­nya dengan nada yang sama.

Wanita itu meremas-remas kedua tangannya dan tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. Seandainya saja hari segera terang, pikirnya.

Untuk tahun baru nanti suaminya telah menghadiahkan kepadanya sebuah meja hias yang diperlengkapi de­ngan lemari bertirai dan sebuah kaca yang besar, sedangkan untuk suaminya, ia telah mempersiapkan pula hadiah berupa kap lampu yang dihiasi dengan rerumputan dan lumut yang ia kumpulkan dan keringkan selama musim panas. Ia yakin bahwa kalau saja suaminya melihat hadiah darinya itu tentulah ia menjadi yakin bahwa istrinya mencintainya.

“Kita pemah berjumpa sekali dengannya!” ucap suami­nya untuk ketiga kalinya. Suara suaminya itu terdengar begitu aneh dan senada, “Kita tengah menyusuri Lud-wigstrasse. Malam cerah saat itu dan banyak orang juga tengah berjalan-jalan. Tak ada orang yang secara khusus kau perhatikan, juga tak ada yang berhenti sejanak untuk menyapamu. Tapi aku tengah memelukmu waktu itu. Tiba-tiba kurasakan tubuhmu bergetar hebat, jantungmu seakan berhenti berdetak dan pipimu memerah ka­rena darahmu tersirap. Masih ingatkah engkau semua itu?” ujar suaminya terus.

Ya, ya. Wanita itu ingin menjawab yang sebenarnya. Aku masih mengingatnya dengan baik. Saat itulah aku untuk pertama kali dan terakhir kalinya bertemu dengan bekas kekasihmu. Jantungku memang seakan berhenti berdetak, namun tak lama segera normal kembali bahkan aku seolah memperoleh hati baru, sehingga ketika wajah tampan dingin kekasihku dulu itu menghilang di kerumunan orang, tak berpengaruh apa-apa lagi kepadaku. Bahkan susah bagiku kini untuk mengingat sosoknya lagi.

Itu semua yang ingin dikatakan oleh wanita itu kepada suaminya dan juga ingin mengingatkannya betapa waktu itu cepat-cepat ia menyuruk ke dada suaminya dan berusaha menciumnya. Namun tiba-tiba ia menjadi ragu apakah suaminya akan mempercayainya, Ia merasakan adanya kepanikan dan ketakutan di balik ketenangan suara suaminya yang tidak mungkin dihilangkan atau dibicarakan saat itu.

“Ya aku ingat saat kita berjalan-jalan waktu itu,” sahutnya kalem dan berusaha agar nada suaranya terdengar sewajar mungkin. “Aku melihat seorang kenalanku. Aku agak kedinginan waktu itu dan malamnya aku demam.”

“Benarkah itu?” tanya suaminya.

“Ya.” jawab wanita itu pelan.

Ia sedih karena tak mampu mengatakan hal yang sebenarnya, yang tentunya lebih baik daripada mengatakan apa-apa sekedar untuk memuaskan hati suaminya. Ia sekarang merasa begitu letihnya dan juga mengantuk, tapi ia pun begitu inginnya mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri suaminya, mengapa ia tidak mau menyalakan lampu dan bergegas pergi tidur.

“Kalau begitu ... tentunya yang benar adalah sebaliknya?” tanya suaminya. Di dalam suaranya tersirat harapan yang besar.

“Apa?” wanita itu balik bertanya pada suaminya.

“Tentang kebun binatang! Yakni bahwa engkau tidak menanti-nanti seseorang waktu itu,” jawab suaminya masih dengan penuh harap.

“Aku sedang menunggumu waktu itu,” kata wanita itu. “Aku memang belum mengenalmu waktu itu. Tapi orang kan, dapat saja menanti seseorang yang belum sekali pun ia lihat.”

“Jadi kamu menikah denganku bukan hanya karena kamu baru ditinggalkan oleh laki-laki lain, tapi semata-mata karena engkau mencintaiku,” tanya suaminya memastikan.

Alangkah menyedihkannya bahwa aku hanya berbaring di sini saja dan membohongi suamiku. Aku harus menga­takan hal yang sebenarnya, apa pun yang akan terjadi, pikirnya. Ia berusaha bangkit untuk mengatakan hal yang sebenarnya, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara erangan yang berat dan tertahan-tahan.

Suamiku sakit, pikirnya terkejut dan meletakkan kembali kepalanya di atas bantal dan berkata dengan keras dan jelasnya; “Ya!”

“Alangkah bahagianya aku,” kata suaminya dan melepas nafas lega. Tak lama kemudian hening. Barangkali ia sudah menutup pintu kamar tidur dari luar dan bermaksud meninggalkan rumah lagi, pikir wanita itu. Ia segera meloncat dari tempat tidur dan berusaha meraih lampu. Ketika ia berhasil menyalakan lampu, ruangan , itu menjadi terang dan lengang. Ia berlari ke teras depan, namun di Sana pun ia tak melihat suaminya. Walaupun rumah tempat mereka tinggal itu model kuno namun sejak beberapa waktu yang lalu setiap ruangannya dilengkapi dengan tombol pembuka pintu.

“Walther!” seru wanita itu cemas. Ia menekan tombol. Pintu-pintu segera terbuka, namun suaminya tak juga dilihatnya.

Ia dan suaminya tinggal di tingkat lima dari apartemen itu. Tiba-tiba ia mendengar langkah-langkah berat menaiki kelima tangga tingkat apartemen dan mendekati tempat tinggalnya. Ternyata langkah-langkah polisi.

“Suami nyonya...,” katanya laki-laki itu ketika me­reka berpapasan dengan wanita itu di mulut tangga lantai 5,” mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobilnya bertabrakan dengan mobil lain ketika ia hendak keluar dari jalan tol. Ia mengalami luka parah.” Ketika mereka selesai mengatakan kabar buruk itu, mereka berhenti sejanak untuk mengamati wajah wanita itu yang keheran-heranan dan kemudian menambahkan bahwa suami wanita itu kini tengah berada dalam perjalanan ke rumah sakit.

Namun para penolong dalam mobil ambulans menyatakan kekhawatiran mereka bahwa korban tak akan dapat ditolong nyawanya.

“Itu tidak mungkin!” kata wanita itu dengan tenang. Ini pasti suatu kekeliruan. Saya baru saja bercakap-cakap dengan suami saya. Ia ada di kamar tadi bersama saya.”

“Di sini?” tanya para polisi itu dengan mata yang terbelalak takjub. “Di mana kalau begitu?” tanya mereka seraya pergi mencari ke dapur, ruang tamu dan menyalakan lampu di semua ruangan.

“Tidak ada seorang pun yang dapat kami temukan, Nyonya” mereka berkata dengan lembut seraya membujuk wanita itu untuk berganti pakaian dan mengikuti mereka ke rumah sakit.

Wanita itu lalu berganti pakaian pergi, menyisir rambut pirangnya yang panjang dan pergi mengikuti polisi-polisi itu menuruni tangga.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, wanita itu duduk di tengah, diapit para polisi itu yang mencoba bersikap seramah mungkin walaupun mantel-mantel hujan mereka berbau tidak enak.

Ia sangat senang karena ambulans itu terus berbunyi dan menerobos terus lampu-lampu merah di jalan raya. “Cepat, cepat!”, suaranya berulang-ulang. Para polisi itu mengira bahwa ia takut kalau ia tidak sempat melihat suaminya dalam keadaan hidup. Namun ia sendiri tidak tahu sama sekali mengapa ia berada di dalam mobil ittu dan hendak ke mana mereka pergi. Kata “Cepat cepat” ia ucapkan secara otomatis saja dan secara otomatis pula ia menengok ke kanan dan ke kiri, ke kiri dan ke kanan, seperti yang dilakukan oleh seekor beruang es. ***

Sejarah Sastra Rusia

Kesusasteraan Rusia


Kesusasteraan Rusia merujuk pada karya sastra yang berasal dari Rusia atau yang berbahasa Rusia yang berasal dari negara pecahan Uni-Soviet. Cikal bakal sastra Rusia sudah mulai muncul sebelum abad 19, berupa puisi, skenario drama dan munculnya penulis seperti Gavrila Derzhavin, Denis Fonvizin, Alexander Sumarokov, Vasily Trediakovsky, Nikolay Karamzin dan Ivan Krylov. Sastra Rusia mengalami masa kejayaan sejak sekitar tahun 1830an, yang diawali oleh novelis sekaligus penyair – Alexander Pushkin dan mencapai titik puncaknya dengan munculnya dua neovelis terbesar di dunia Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoyevsky, ditambah munculnya cerpenis dan penulis skenario drama ternama Anton Chekov. Sastra Rusia di abad ke-20 dikenal oleh sosok-sosok seperti Alexander Blok, Sergei Yesenin, Marina Tsvetaeva, Vladimir Mayakovsky dan penulis prosa Maxim Gorky, Vladimir Nabokov, Mikhail Sholokhov, Mikhail Bulgakov dan Aleksandr Solzhenitsyn. Mereka semua terkenal di dunia.

Sastra Rusia Lama


Sejarah karya sastra Rusia diawali dengan beberapa karya yang ditulis dalam bahasa Rusia kuno. Karya-karya tersebut misalnya “The Tale of Igor's Campaign” dan “Praying of Daniel the Immured” dan kesemuanya anonim. Karya lain yang mengawali lahirnya kesusasteraan Rusia antara lain Zadonschina, Physiologist, Synopsis & A Journey Beyond the Three Seas. Ada juga Bylinas – yang merupakan percampuran antara Kristen dan trdisi pagan. Sedangkan karya-karya pada abad pertengahan terdapat banyak karakter-karakter religius yang diadaptasi dari karya-karya berbahasa Gereja Slavonic yang juga mengandung elemen-elemen Slavic Selatan (South Slavic). Karya pertama yang muncul dalam bahasa Rusia keseharian (colloquial) adalah sebuah biografi tentang Pendeta Avvakum. Karya ini muncul pada pertengahan abad 17.

ERA PETRINE


Modernisasi di Rusia biasanya dikaitkan dengan Peter yang Agung (Peter the Great) dan Catherine (Catherine the Great). Pada era ini secara kebetulan bertepatan dengan reformasi alfabet dan semakin meningkatnya penerimaan terhadap penggunaan bahasa-bahasa populer di dalam karya sastra. Antiochus Kantemir, Vasily Trediakovsky, and Mikhail Lomonosov adalah penulis pada abad ke-18 yang dipandang sebagai perintis munculnya penyait seperti Gavrila Derzhavin, penulis drama seperti Alexander Radishchev dan Nikolay Karamzin. Nikolay Karamzin inilah yang kemudian dikenal sebagai kreator sastra Rusia modern.

Era Keemasan


“Era Keemasan” sastra Rusia secara umum berlangsung selama abad 19. Popularitas romantisme memunculkan penyair berbakat - Vasily Zhukovsky dan anak didiknya ;Alexander Pushkin. Pushkin dikenal sebagai penyair yang membuat sastra berbahasa Rusia lebih bening dan terang serta telah berperan membawa sastra Rusia ke level baru. Eugene Onegin – novel berbentuk bait-bait, adalah karya Pushkin yang paling populer. Pada masa ini pula muncul generasi penyair-penyair baru antara lain :

Bertemu Dalam Hati


 Cerita cinta selalu diawali pertemuan. Misalnya ketika di jalan tabrakan dengan seseorang. Atau ketika di sekolah, tiba-tiba seorang murid baru masuk kelas. Bisa juga ketika berangkat ke sekolah, tiba-tiba di pinggir jalan ada makhluk indah yang menarik perhatian. Semuanya seolah sudah diatur. Seolah-olah kita sedang bermain sinetron, sementara sutradara dan kru-krunya bersembunyi.
Hari ini Andi awali seperti biasa. Bangun tidur seperti biasa. Berangkat pun dengan kebiasaan yang sudah lama ia lakukan. Tidak ada perbedaan. Dan sama sekali ia tidak menduga akan mengalami hal yang istimewa hari ini.
Hari ini tidak ada hari Jumat. Jam 4 sore nanti ia ada koordinasi dengan teman-teman OSIS-nya. Ia persiapkan semuanya. Dan seperti biasa, dia akan pulang sore.
“Seperti orang kerja saja…”, begitu ia sering bergumam bila ia menyadari sering pulang sore.
-*-
Sore harinya.
Rian, Ahmad dan Denita sudah datang. Tinggal menunggu 2 orang lagi sebelum mereka mulai koordinasi. Mereka duduk di depan kelas XII IPS2. Di tempat duduk yang dibentuk melingkat dengan meja kecil di tengahnya, Rian seperti biasa, membawa netbook-nya sambil membahas siapa saja anak kelas XI yang bikin status paling konyol di FB.  Begitulah Rian. Sementara Denita, sang ketua OSIS hanya tertawa mendengar celoteh Rian, sambil sesekali ikut komentar.
“Eh, Dini ga bisa datang nie..”, kata Denita setelah membaca sms di hape­-nya.
Emang kenapa?” tanya Andi.
“Dia latihan pramuka di SMA 12”, jawab Denita. “Kan minggu depan ada lomba di Kabupaten!”
“Oh iya!” Kata Rian menyesal. Rianlah yang mengundang anak-anak OSIS koordinasi dan dia lupa kalau Dini selalu latihan pramuka setiap hari Jumat.
“Jadi, gimana dong?” Kata Andi. Khawatir. “Besok proposal, undangan trus spanduk harus udah di urus nieh..!”
Udah kita mulai aja. Soal tugasnya Dini tenang aja. Dia bilang siap aja kalau ada kerjaan buat dia, yang penting habis ini langsung kasih tau ke dia,” kata Denita memberikan solusi.
Lima menit kemudian Endi datang. Dan mulailah mereka membahas PENSI yang akan mereka adakan di sekolah.
Seperempat jam menjelang maghrib mereka selesai. Dan Andi yang akhirnya harus men-transfer hasil koordinasi sore itu ke Dini. Dengan berat hati Andi akhirnya mengalah. Sore itu ia betul-betul seperti pekerja di sebuah perusahaan yang harus bekerja sampai malam. Gagal-lah rencananya untuk pulang cepat ke rumah. Pulang menjelang maghrib saja sudah telat, apalagi kalau habis maghrib dia harus ke rumah Dini.
Untungnya Dini masih di SMA 12. Jadi dia tidak perlu pergi ke rumah Dini yang jauh. Kalau harus ke rumah Dini, paling cepat dia sampai rumah jam 9 malam. Akhirnya, ia pun meluncur ke SMA 12.
SMA 12 sepi. SMA 12 adalah yang paling tua di kota Andi tinggal. Bangunannya sisa peninggalan Belanda. Memang ada bangunan baru, tapi bangunan utama sekolah itu masih asli. Temboknya tebal dan tinggi dengan jendela yang lebar dan kayunya pun berat. Mungkin kayu jati. Kata Endi, SMA 12 mirip rumah sakit. Tapi, bagi Andi sama sekali tidak mirip rumah sakit. Bagi Andi suasananya mirip baru keluar dari mesin waktu dan terdampar ke masa kolonial kala Belanda masih berkuasa. Damai dan sepi. Seolah-olah kota ini dan sekolah ini dihuni orang-orang yang pulang pergi dengan sepeda onthel, sehingga suasana kuno-nya benar-benar terasa.
Saat itulah, Andi merasakan ketenangan yang sudah lama ia tak rasakan. Terakhir kali ia rasakan kedamaian itu ketika, dulu ia dua hari sendirian di rumah. Setiap bangun pagi, selalu membuatnya melamun. Biasanya keramaian yang dihadapinya, tapi kini suasana sepi dan tenang yang dirasakan. Ia seperti merasakan seluruh sudut dan ruang di rumahnya. Pagi yang membuatnya lebih merasa memiliki dan mengenal setiap sudut ruang di rumahnya. Kini rasa itu muncul lagi di tubuhnya.
Ia terus menyusuri koridor-koridor di SMA 12. Koridornya lebar. Kira-kira panjangnya 4 langkah. Tiangnya kayu coklat. Berderet tiap 10 meter. Seolah-olah pelayan yang menyambut kedatangan pejabat kolonial yang datang ke gedung itu. Lantainya putih dari keramik. Temboknya pun putih. Sehingga matahari yang terbenam tak membuat suasananya jadi gelap. Lembayung merah di barat dipantulkan dengan maksimal oleh tembok dan lantai, menyiratkan suana hening dan temaram.
Andi pun berbelok masuk ke koridor kelas-kelas. Dini ternyata sedang di ujung koridor. Jaraknya sekitar 80 meter. Dini berdiri dengan tenang. Padahal ada sederet bangku kayu di depan kelas. Mata Dini memandang Andi. Masih tenang. Dan berdiri bak nelayan yang hendak melaut menaklukkan ombak dan cakrawala.
Tak ada yang bisa dilakukan Andi selain terus berjalan dan memandang Dini juga. Di depan.
Untuk pertama kalinya, Andi merasa ada yang aneh dengan Dini. Namun segera Andi bisa menepisnya. Tepat ditengah-tengah keanehan itu muncul dengan tiba-tiba. Dan Andi tak bisa menepisnya. Ia baru sadar Dini seperti mematung. Entah mengapa Dini begitu fokus dan tenang memandangnya. Dia bak boneka. Tanganya tak bergoyang-goyang. Kakinya tak bergeser untuk menyamankan badan. Dini sudah nyaman dengan posisi itu. Dini sudah tidak ada urusan dengan badannya. Ia hanya menatap Andi. Seperti seorang terhukum mati menghadapi takdirnya.
Andi mulai tak tenang. Andi sudah cukup lama mengenal Dini, namun Dini yang di hadapannya seperti orang yang baru ia kenal.
Setiap langkahnya seperti sedang mendekati pohon yang amat tinggi, hingga ujung pohonnya pun tak terlihat oleh mata. Langkah kaki Andi jadi kikuk. Helaan tangannya aneh. Ia baru sadar, suasana sore itu begitu sunyi. Ia sering pergi ke tempat sunyi. Namun baru kali ini ia bisa mendengarkan dalam kesunyian. Seolah-olah, kesunyian adalah sebuah kerajaan rahasia yang disembunyikan dari pandagan dan pendengaran manusia.
“Ehm.” Andi berdehem ketika 10 meter di depan Dini. Berusaha memecahkan kehikmatan yang ia rasakan. Namun, Dini tetap tenang mematung.
“Kok sepi?” Tanya Andi.
Dini diam.
“Kenapa sih, kamu?” Tanya Andi lagi.
Tiba-tiba Dini tersenyum. Senyum kecil.
Kemudian Dini duduk di bangku panjang. Andi seperti mendengar suara,
‘Duduk di bangku saja sini…!’
Andi termangu melihat tingkah Dini yang aneh. Dan rasa aneh pun makin menjalari kepala, dada, perut, tangan dan kakinya. Rasanya seperti orang yang kelelahan dan harus istirahat, namun sama sekali ia tak ingin tidur atau merebahkan badan.
Dan secara refleks Andi ikut duduk di samping Dini. Dini tersenyum lagi.
“Temeni aku dulu ya, ayahku bentar lagi jemput”, kata Dini lembut.
Andi pun tersenyum.
Ia sekarang lupa harus mentransfer hasil koordinasi OSIS tadi.
“Kalau sampe jam 7, ayahku ngga ke sini kamu aja yang nganter ya..?”
Entah mengapa Andi menjawab.
“Iya deh…”
“Makasih ya…” Jawab Dini.
“Mmm kamu tahu ngga, ada putri bangsawan Belanda yang tinggal di sini dan ngga mau pulang lagi ke Belanda” Kata Dini gembira, seolah-olah ia kembali ke masa kecil ketika ia sedang senang-senang bermain boneka.
“Oya..?” Andi sedikit tak percaya. “Emang kenapa?”
“Karena ia jatuh cinta dengan tempat ini.”
 “Oya..?” Andi masih setengah tak percaya. “Darimana kamu tahu?”

-*-
Dan dua anak manusia itu pun melupakan apa yang seharian lalu mereka pikirkan. Tidak juga Andi. Tidak juga Dini. Sore itu hanya ada Andi, Dini, sederet bangku kayu tua, gedung tua era kolonial dan taman kecil di sebuah halaman kelas.


adirahmancorner_cerpen
Desember 2011-12-23
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More